Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Juli 2012

Ketika Kesabaran Menghasilkan Buahnya


Lembayung sudah hampir luntur oleh gelapnya malam, adzan magrib telah berkumandang. Saatnya rutinitas di surau dilaksanakan. Tetapi hari ini berbeda dengan hari-hari lainnya. Anak-anak laki-laki yang biasanya sudah berlarian di Masjid, terkadang semerawut dengan sajadah melayang yang dimainkan mereka, kini menghilang, hanya ada segerombolan anak perempuan yang segera mengikuti langkahku pergi ke masjid. Ditunggunya anak-anak laki-laki tersebut sembari mengumandangkan adzan.
Sengaja Adzan kali ini spesial, dengan alunan yang agak panjang walau terkadang terkekeh-kekeh karena kepanjangan, berharap gerombolan anak-anak mendengar lengkingan adzan, tetepi sampai doa setelah adzan di ucapkan di mic juga mereka belum kunjung datang.
Ya sudah, masih ada waktu sebentar untuk menunggunya dengan mendirikan shalat sunat kobla magrib. Namun usaha memanjangkan bacaan sholat pun tak ada hasil.

Tidak terlalu kaget dengan kejadian tersebut, karena memang kalau mereka sedang kepincut oleh ajakan syetan untuk tidak datang ke masjid, paling mereka bersembunyi di rumah masing-masing.
Audzubillahiminasyaitonirozim, terucap dari mulut ketika rakaat ke dua shalat magrib. Hal tersebut dilakukan bila kekhusuan terganggu, dan itu sering saya ucapkan karena memang sering terganggu.
Tetapi gangguan ini berbeda, yaitu terdengar di sekitar masjid suara gumaman yang mendecit dan suara kaki yang bergerombol, dari suaranya terdengar suara familiar dari anak-anak yang sering ngaji di surau ini.
Pasti dugaan benar, karena hampir jarang sekali ada anak RT lain yang main ke RT ini pada malam hari.
sudah diduga, terhitung dua kali mereka mempermainkan komitmen jadual ngaji magrib.

Doa wirid pun biasa diucapkan setelah selesainya solat fardu, tak digubris suara teriakan anak-anak laki-laki yang sepertinya semakin menjadi-jadi. Ternyata itu adalah sinyal panggilan buat para anak-anak perempuan, percis seperti ayam jago yang bersuara kut-kut-kut-kut, pertanda panggilan untuk ayam betina. Tidak beda jauh dengan insting para perempuan-perempuan muda tersebut menanggapi teriakan tersebut dengan merengek agar ngajinya segera dilakukan.

Tidak ada respon yang berarti dari ku untuk rengekan anak-anak perempuan itu, kareana merekapun sebenarnya sudah tau bila aku belum shalat sunat pasti ngajinya belum boleh dimulai, dan yang menjadi penghalang mereka tuk menunggu adalah perjanjian tak tertulis tentang peraturan ke dua setelah tidak ikut solat, tidak ikut mengaji pun mereka tidak akan dihadirkan dalam absensinya.

Satu persatu anak perempuan mulai kebagian jatah ngaji Al-Quran minimal 5 ayat dan menghafal hanca menghafal minimal 1 ayat dari kelanjutannya, itupun berlaku bagi anak-anak yang sudah masuk ke iqro 6.
satu orang telah selesai, kegundahan mereka mulai muncul, mulai mengganggu kosentrasi temannya yang sedang ngaji, agar dipercepat ngajinya.
aroma tidak fer dalam mengaji sudah tercium, aku tenangkan mereka, dan sengaja tidak diberitahu huruf-huruf yang mereka lupa. Tindakanku ternyata melahirkan respon yang tidak baik dari salah satu anak yang memprofokasi agar temannya memangkas ayat yang akan dibacanya, yaitu hanya 2 ayat. Dan itu benarlah terjadi, anak yang nomor urut ke 4 itu membaca ayat kemudian berhenti di ayat ke 2 dan dengan percobaan keputusannya dia langsung menutup ayat tersebut dengan sodaqollahuladzim, yaitu berupa bacaan pemungkas ketika Al-Quran telah selesai dibaca. Tetapi spekulasi tersebut saya patahkan dengan sedikit ketegasan kepada mereka, dan alhamdulillah bisa mengurungkan niat curangnya dan ngajipun berjalan lancar sampai urutan terakhir.

Tidak ku sangka sang jantan setia mengunggu sang betina keluar, ternyata yang dilakukan mereka sangatlah sepele, yaitu bermain pedang-pedangan disekitar masjid.
Yang jadi masalah bukanlah main pedang-pedangan, dan tidak pula melarang anak untuk bermain, tetapi tidak adanya rasa malu jika bermain di sekitar masjid tanpa dia belum menginjakkan ke dalam masjidnya, tapi bila direnungkan memang ada sebab dan akibat, yaitu contoh dari orang-orang tua yang ada disekitar masjid juga tidak ke masjid, jadi wajar jika anak mencontohnya.

aku dekati arena mereka bermain, tapi karena mungkin mereka masih mempunyai rasa malu akan kealfaan tidak solat dan ngaji di masjid, mereka pun melarikan diri, dan aku katakan "kok malah lari? kalian itu cewek apa cowok?" tapi pada waktu itu dia tidak menghiraukan perkataanku dan meneruskan pelariannya. yang aku pikirkan, mungkin mereka sedang mencerna perkataanku tadi.


tidak lama dari sana, waktu adzan isya telah ada, dan dengan senang hati ku lantunkan adzan isya, dengan harapan agar alat untuk mencerna perkataan tersebut mereka bisa mengerti. Tapi ya, namanya juga anak kecil, belum bisa mencerna bahasa seperti itu. sampai adzan isya selesaipun mereka belum juga datang, malah seperti tidak mendengar dengan perkataanku tadi dan mereka pun melanjutkan permainan di arenanya. aku datangi lagi gerombolan tersebut, alasan hanya untuk menggiring anak-anak perempuan saja tetapi pengertian dari yang merasa bersalah menjadi berbeda, lari lagi lah mereka ke semak-semak. "ayo kita solat" tak ada respon. "ayo cepat solat anak sholeh" perkataan agar kembung hidung pun keluar. "ya sudah yang merasa cowok ke sini" ternyata dengan perkataan ini manjur, berarti tadi mereka sedang mencerna kata-kataku yang pertama.


akhirnya para jagoan pun masuk masjid, dan dilaksanakan lah shalat isya berjamaah, selesainya shalat khusus buat hari ini aku hadiahkan absensi buat para jagoan yang telah berhasil melawan ego dan hawa nafsunya.


Akhirnya saya merenung ternyata benar Man shabara dzafi rha, barang siapa yang bersabar pasti akan menuai hasilnya